PRIMORDIAL

| No comment yet


KATA primordial berasal dari kata Latin prima yang artinya pertama. Pertama dipahami sebagai yang terdahulu ada sebelum ‘yang lain’ ada. Premis ini menegaskan keniscayaan eksistensi pertama sebagai fundamen yang ‘tidak bisa tidak harus ada’ sehingga yang lain bisa menemukan eksistensinya.
Kesadaran dipahami sebagai suatu kemampuan yang dimiliki manusia untuk mengambil jarak antara diri dengan segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Menurut Husserl kesadaran itu bersifat intensional yang artinya antara saya yang menyadari dengan apa yang disadari terdapat jarak namun jarak itu akan memungkinkan terciptanya relasi epistemik di mana saya akan cenderung mendekati apa yang disadari dan saat yang sama apa yang disadari itu menjadi sebagai isi dari kesadaran saya.
Ketika manusia lahir ia mengalami banyak hal pertama. Ada tangisan pertama, ada tarikan nafas pertama, perbedaan suhu pertama dan berbagai litani pertama lainnya yang bisa diteruskan. Sebagai mahluk yang diberi akal budi atau yang sering dipahami sebagai kesadaran, manusia mengambil jarak intensional dengan lingkungan di sekelilingnya. Ia sadar bahwa di sekelilingnya terdapat keberadaan orang lain.
Kesadaran ini kemudian diikuti dengan kesadaran lain bahwa ia butuh orang pertama di sekelilingnya. Ia sadar bahwa tanpa mereka keberadaannya tak dapat dipertahankan. Inilah yang disebut kesadaran eksistensial. Kesadaran ini merupakan fundamen tanpa batas keberadaan seseorang dan di atasnya bakal dibangun beragam konstruk kesadaran lain ketika manusia memasuki tahapan yang lebih kompleks.
Bergerak dari kesadaran eksistensial manusia lalu mencapai tahap yang disebut kesadaran normatif.
Kesadaran normatif merupakan bentuk kesadaran manusia akan adanya nilai pribadi dan nilai sosial beserta perangkat normanya. Pada  tempat di mana manusia lahir dan dibesarkan di situlah pertama kalinya kesadaran normatifnya dibentuk. Manusia belajar untuk mengharmonisasikan nilai pribadi dengan tuntutan sosial.
Ia bahkan belajar mengorbankan nilai pribadinya demi nilai sosial. Perilaku mengorbankan nilai pribadi merupakan proyeksi sikap patuh, hormat dan bahkan cinta pada norma sosial. Sikap patuh, hormat, dan cinta ini juga adalah proyeksi kesadaran normatif seseorang yang secara sukarela mengikatkan diri pada sistem sosial tempat ia berada. Fenomena ini menjelaskan tentang ikatan primordial yang bersifat normatif dari seorang individu dengan lingkungan.
Ikatan eksistensial dan normatif dengan sendirinya melahirkan kesadaran ideologis identitatis individu. Kesimpulan ini didasarkan pada premis bahwa kesadaran aku tak mungkin ada tanpa orang-orang pertama (keluarga) dan aku  adalah bagian integral dari orang-orang dan perangkat nilai di sekelilingku akan membentuk kesadaran ideologis identitatis bahwa aku berasal dari keluarga A, beragama B, merupakan anggota suku C, dan tergabung dalam kelompok D. Kesadaran berkonsekuensi munculnya tanggung jawab ganda yang diemban individu untuk menjaga harga dirinya dan kelompok sosial-primordialnya.
Pelembagaan Identitas
Kesadaran ideologis identitatis ini kemudian melembaga dalam sistem nilai pribadi setiap orang. Itu artinya sistem berpikir, merasa, dan berperilaku setiap individu senantiasa menampakkan sekaligus karakter individual dan karakter primordialisme sosialnya. Ketika proses pelembagaan ini terjadi maka individu tidak hanya mengidentifikasikan dirinya dengan identitas primordialnya melainkan berusaha mengintegrasikan identitas dirinya dengan identitas sosial primordialnya sebagai satu kesatuan integral dan holistik dalam berpikir dan berperilaku. Salah satu contoh efek perilaku individu yang telah melembagakan identitas sosial primordial adalah ketika identitas primordialnya diganggu oleh mereka yang berasal dari out gorup maka reaksi yang ditunjukkan cenderung sama dengan reaksi yang ditunjukkan ketika harga diri pribadinya diganggu.
Mengatakan suku A biadab sama dengan mengatakan ‘saya’ biadab. Atau mengatakan Agama B sesat sama dengan mengatakan ‘saya’ sesat. Oleh karena itu reaksi yang ditunjukkan terhadap ‘gangguan’ suku saya biadab atau agama saya sesat cenderung sama dengan reaksi terhadap gangguan saya biadab atau sesat. Menyerang sentimen primordial saya sama dengan menyerang pribadi saya.
Idealnya politik adalah sebuah seni. Seni ini bisa terapresiasi apabila ada unsur harmoni. Harmoni mengandaikan adanya sinergi antara gerak, forma (bentuk), materi dan tujuan. Gerak dalam seni politik adalah spirit yang membuat setiap orang sungguh-sungguh terlibat dalam kompetisi merebut dan mempertahankan kekuasaan. Forma adalah model strategi yang dimainkan dalam pertarungan. Materi adalah seluruh sumber daya yang digunakan untuk memenangkan kompetisi. Tujuan dalam seni politik adalah keberhasilan berupa kekuasaan yang diperoleh dan merupakan motif penggerak sekaligus muara dari seluruh usaha politik.
Kesadaran primordial akan menampakkan diri dalam gerak, forma, materi maupun tujuan politik. Spirit yang ditunjukkan dalam pikiran, sikap, dan perilaku politis seseorang merupakan proyeksi identitas diri pribadi sekaligus identitas primordialnya. Berpikir maju, bersikap santun, dan berperilaku adil dalah salah satu contoh ekspresi positif dari individu yang sadar akan identitas diri dan identitas primordialnya. Sebaliknya ekspresi negatif seperti ambisi untuk menghancurkan lawan dengan menghalalkan segala cara akan menelanjangi harga diri pribadi dan masyarakat primordialnya. Dalam hal strategi, upaya menjegal lawan secara membabibuta dan tidak bertanggung jawab bisa saja menguntungkan secara politis akan tetapi ketika diperhadapkan pada pertanyaan sederhana, dia orang apa? Orang A biasanya begitu ya?  Atau dia agama apa? Beragama koq begitu caranya? Maka betapa memalukan memainkan peran sebagai aktor politik. Ini adalah konsekuensi logis yang harus diterima karena di pentas politik sentimen primordial merupakan sisi menarik  dan karena itu selalu menjadi sorotan publik.
Secara materi dalam seni politik, keluarga, agama, suku atau golongan adalah sumber daya yang dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan politik. Hal ini sah-sah saja. Adalah mustahil mencabut seseorang dari akar-akar primordialnya demi sebuah idealisme pragmatis orang-orang out group. Sederhananya secara naluriah manusia cenderung memilih segala sesuatu yang sudah dikenal, diketahui, atau bahkan cintai daripada memilih sesuatu asing dan hanya dikenal melalui propaganda temporal. Dalam hal ini kesadaran primordial secara efektif mampu memberikan efek kenyamanan bagi seseorang untuk menjatuhkan pilihan politisnya. Rasa nyaman ini muncul karena setidaknya ada kepastian (yang sekalipun subjektif) figur yang saya pilih dalam pertarungan politis merupakan representasi kesadaran eksistensial, kesadaran normatif dan kesadaran ideologis identitatis saya dan kelompok primordial saya. Persoalannya mampukah mereka yang direstui itu mengemban amanah dan menjaga nama baik kelompok primordialnya?
Dari sisi tujuan dalam seni politik kesadaran primordial seyogyanya menuntun individu berperilaku secara lebih normatif dalam mencapai tujuan. Lebih dari itu kesadaran primordial juga membantu setiap orang untuk menetapkan tujuan-tujuan politisnya secara lebih adil dan bertanggung jawab baik terhadap kelompok primordialnya maupun terlebih kepada kelompok primordial lainnya dalam satu lingkaran kekuasaan yang sama karena ketika berkuasa yang dipertaruhkan di sana adalah bukan ‘siapakah engkau’ melainkan ‘dari manakah asalmu hai engkau yang diberikan kepercayaan untuk memimpin kami semua’?

Tulisan By : Hemas Hafidh Bachtiar